
Gue mau jujur, beberapa bulan terakhir timeline gaming tuh kerasa “penuh banget”. Banyak konten yang kelihatan niat, tapi pas dicermatin… rasanya kosong. Kayak template, kayak hasil copas, kayak dibuat cuma buat ngejar kuantitas. Dan sekarang, istilah yang makin sering dipakai buat ngegambarin fenomena itu adalah “AI slop.”
Yang bikin topik ini makin relevan, produser Blue Archive ikut angkat suara. Bukan sekadar “anti AI,” tapi lebih ke warning yang masuk akal: kalau AI dipakai sembarangan, output-nya bisa nurunin kualitas, dan ujungnya bikin gamer makin susah percaya sama produk kreatif.
Buat gue, ini bukan drama. Ini soal customer experience dan trust. Dua hal yang kalau rusak, susah baliknya.
Dari yang gue tangkap, “AI slop” itu bukan AI-nya yang salah. Masalahnya ada di eksekusi: pemakaian generative AI yang “asal gas,” tanpa quality control dan tanpa rasa tanggung jawab kreatif.
Producer Blue Archive, Yongha Kim, bahkan ngasih analogi yang ngena banget: bayangin bungkus snack keliatan besar dan keren, tapi isinya dikurangin dan diganti “angin.” Packaging menang, value kalah. Wajar kalau konsumen bereaksi negatif. Perspektif ini bukan sekadar opini doang, ini cara sederhana buat jelasin kenapa backlash AI bisa makin besar kalau kualitas turun.
Poin pentingnya: kalau output kreatif terasa makin generik dan “murahan,” publik bakal mikir, “Oh, ini gara-gara AI ya?” Dan itu bikin industri kreatif kena dampak reputasi, bahkan buat karya yang sebenarnya dikerjain manusia dengan serius.
Di industri game, trust itu aset. Kita sebagai pemain tuh invest waktu, emosi, dan kadang uang. Sekali merasa “dibohongi” atau merasa kualitasnya turun, kita jadi defensif.
Dan ini nyambung ke isu yang lebih besar: nilai karya kreatif. Dulu, kita percaya bahwa desain karakter, ilustrasi, musik, cerita, itu punya “niat.” Ada tangan manusia yang mikir, ngerasain, revisi, dan polishing. Itu tradisi craft yang dari dulu bikin karya kreatif punya jiwa.
Kalau proses itu diganti dengan output cepat yang tidak dijaga mutunya, yang terjadi bukan inovasi, tapi degradasi standar. Industri mungkin terasa lebih efisien di permukaan, tapi secara brand equity, bisa bocor pelan-pelan.
Buat gamer, dampaknya simpel: kita jadi makin sulit bedain mana konten berkualitas, mana konten yang cuma “ramai doang.” Hasilnya?
Buat content creator, ini juga bikin medan makin berat. Konten yang dibuat dengan riset dan pengalaman bisa ketimbun sama konten massal yang output-nya banyak tapi tipis. Secara strategi, itu bikin discovery makin chaos.
Buat studio, “AI slop” itu risk management issue. Bukan cuma etika, tapi bisnis:
Gue bukan tim yang bilang “AI harus dibuang.” Dunia maju, tools berkembang. Tapi kita perlu guardrails.
Ini beberapa sikap yang menurut gue paling realistis:
Kalau ada konten yang terasa “kebanyakan tapi kosong,” jangan langsung termakan hype. Cek ulang, bandingin sumber, lihat detail. Ini basic, tapi efektif.
Kalau ada studio atau kreator yang pakai AI, yang kita butuhin itu kejelasan: dipakai di bagian mana, workflow-nya gimana, quality control-nya seperti apa. Transparansi itu bikin ekspektasi jelas, dan ekspektasi jelas itu bikin trust naik.
Ini cara paling tradisional tapi paling berdampak: dukung karya yang jelas prosesnya. Beli yang layak dibeli, share yang layak di-share. Biar pasar “menghadiahi” kualitas, bukan spam.
Kalau gue jadi stakeholder di studio, gue bakal taruh AI sebagai akselerator untuk hal-hal repetitif, bukan pengganti kreativitas inti. Intinya: AI bantu workflow, tapi keputusan kreatif tetap manusia.
Buat gue, statement Producer Blue Archive itu wake-up call yang sehat. “AI slop” bukan cuma istilah lucu, tapi tanda kalau pasar lagi sensitif sama kualitas dan kejujuran proses. Dan itu wajar.
Kita bisa tetap enjoy game, tetap update meta, tetap ngulik event, tapi dengan mindset yang lebih matang: kritikal, bukan sinis. Soalnya masa depan industri kreatif itu bukan cuma soal teknologi, tapi soal standar.
Kalau kamu mau tetap up to date soal isu gaming kayak gini, plus tips dan trik game yang relevan, Baca berita gaming terbaru di Topup Storm.
Comments are closed